SEJARAH
SINGKAT KONFERENSI ASIA AFRIKA (KAA)
Konferensi
Asia Afrika (KAA) merupakan tonggak sejarah
penting bagi Indonesia. 60 tahun yang lalu, Indonesia yang saat itu baru
merdeka mampu menjadi pelopor satu gerakan internasional negara-negara Asia dan
Afrika.
KAA pada tahun 1955 lalu awalnya dipandang Negara Barat sebagai ide konyol dan sulit diwujudkan, namun Indonesia menjelma menjadi kekuatan baru yang ditakuti Amerika Serikat dan Uni Soviet, dua kekuatan yang mewakili Blok Barat dan Blok Timur.
KAA menjadi momentum hadirnya kekuatan baru selain Blok Barat dan Blok Timur. Pada 18 April 1955 Gedung Merdeka menjadi tempat berlangsungnya KAA.
KAA pada tahun 1955 lalu awalnya dipandang Negara Barat sebagai ide konyol dan sulit diwujudkan, namun Indonesia menjelma menjadi kekuatan baru yang ditakuti Amerika Serikat dan Uni Soviet, dua kekuatan yang mewakili Blok Barat dan Blok Timur.
KAA menjadi momentum hadirnya kekuatan baru selain Blok Barat dan Blok Timur. Pada 18 April 1955 Gedung Merdeka menjadi tempat berlangsungnya KAA.
Pada
tanggal 13 april 2015 kembali di adakan konferensi asia afrika yang ke 60.
Dalam konferensi asia afrika yang ke 60 indonsia, sebagai tuan rumah dalam
konferensi asia afrika Indonesia pamerkan bidang kebudayan,kesenian ,hingga
kerajinan tangan.
Kerajinan tangan yang di pamerkan oleh Indonesia adalah , mulai dari kain batik, tenun, keris, sampai batu akik.
Salah
seorang Desainer Kain Tenun, Yuke Sutiyoko mengatakan pada Konferensi Asia
Afrika kali ini para delegasi dari Benua Afrika maupun Asia sangat antusias
melihat keindahan kain khas Indonesia. Menurut Yuke, tamu negara asal Benua
Afrika sangat menyukai kain-kain yang bermotif cerah. Lebih lanjut Yuke
menambahkan nantinya ada beberapa jenis kain tenun yang akan digunakan Kepala
Negara dalam berbagai acara pada peringatan Konferensi Asia Afrika.
Hasil kerajinan kain tenun ikat
Bandar Kidul, Kota Kediri bakal go internasional. Sesuai rencana, kain tenun
akan dipamerkan kepada delegasi yang menghadiri Konferensi Asia Afrika (KAA) di
Bandung.
"Saat ini perajin kain tenun
Bandar juga diperkenalkan dalam pameran Inakraf di Jakarta. Malahan dari
pameran tersebut sudah mendapat kontrak," kata Djoko Raharto, SE,MA,
Kepala Perwakilan BI Kediri kepada wartawan, Senin (13/4/2015).
Perajin kain tenun Bandar
merupakan binaan dari Bank Indonesia. Sebelumnya 10 perajin telah mendapatkan
bantuan alat tenun bukan mesin sebanyak 139 (ATBM).
Kegiatan produksi kain tenun ini telah menyerap sekitar 282 tenaga kerja.
Kegiatan produksi kain tenun ini telah menyerap sekitar 282 tenaga kerja.
Komunitas perajin tenun juga
telah membentuk koperasi yang menaungi semua anggota. Setiap order yang masuk
melalui wadah koperasi, bakal didistribusikan kepada seluruh anggota secara
merata.
SEJARAH
KAIN TENUN IKAT
Kain tenun ikat merupakan salah satu seni kebudayaan warisan generasi
terdahulu yang memiliki keunikan, nilai seni serta nilai sejarah. Kain tenun
ikat sangat diminati oleh masyarakat terutama wisatawan mancanegara, karena
dalam proses pembuatannya kain tenun ikat memiliki kesulitan serta keunikan
tersendiri dibandingan dengan kain tenun lain.
Untuk menghasilkan sebuah kain tenun ikat dimulai dari penanaman kapas, kemudian pembuatan benang, peminyakan benang, mencelup atau mewarnai, mengikat motif serta menenun dan menjadikannya sebagai pakaian adat.
Untuk menghasilkan sebuah kain tenun ikat dimulai dari penanaman kapas, kemudian pembuatan benang, peminyakan benang, mencelup atau mewarnai, mengikat motif serta menenun dan menjadikannya sebagai pakaian adat.
Biasanya dari proses tersebut dilakukan ritual-ritual tertentu yang dipercayai dapat membangkitkan semangat dalam bekerja. Hal ini merupakan suatu tradisi dan kebudayaan dari Suku Dayak dan telah dilakukan puluhan tahun yang lalu. Tidak kalah menarik, motif yang digunakan dalam kain tenun ikat ini merupakan hasil mimpi serta pengetahuan para leluhur yang mengandung makna tertentu. Dahulu kegiatan ini wajib dilakukan oleh para kaum wanita suku Dayak sebagai tradisi atau adat istiadat.
Peralatan yang digunakan dalam membuat kain tenun masih menggunakan bahan dari alam yang tersedia di lingkungan pemukiman seperti dengan menggunkan kayu ulin, rotan, dan bahan lainnya
REFERENSI
www.aktual.co/warisanbudaya/180114kain-tenun-ikat-warisan-budaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar