Priesca Metta

..WELCOME... SELAMAT MEMBACA ...

Kamis, 20 Juli 2017

Hari Raya Waisak


Hari besar Agama Buddha salah satunya adalah hari Trisuci Waisak yang merupakan hari raya terbesar dan paling bermakna bagi umat Buddha.

'Waisak' berasal dari bahasa Pali 'Vesakha' atau di dalam bahasa Sansekerta disebut 'Vaisakha'. 'Vesakha' diambil dari bulan dalam kalender buddhis yang biasanya jatuh pada bulan Mei kalender Masehi.
Disebut demikian karena Waisak memperingati Tiga Peristiwa Penting yang semuanya terjadi di bulan Vesakha dan pada waktu yang sama yaitu tepat saat bulan purnama.

Tiga Peristiwa Penting itu adalah :
1. Kelahiran Pangeran Sidharta
Raja Sudhodana dan Ratu Mahamaya hidup berbahagia dalam pernikahan mereka. Setelah bertahun-tahun, akhirnya Ratu Mahamaya mengandung. Setelah tiba waktunya utnuk melahirkan maka Ratu Mahamaya berniat akan pergi ke rumah orang tuanya untuk melahirkan. Melahirkan di rumah orang tua pihak istri adalah adat istiadat yang berlaku di India saat itu. Karena itu, Ratu Mahamaya memohon ijin dari Raja untuk diperkenankan kembali ke kampung halamannya di kota Devadaha menjelang kelahiran sang bayi. Raja Sudhodana dengan gembira mengabulkannya.
Selain memerintahkan mempersiapkan barisan pengiring, Raja juga mengutus orang untuk membersihkan jalan yang akan dilalui oleh Ratu.
Di perbatasan kota Kapilavastu dan Devadaha, terdapat sebuah taman bernama Lumbini. Pada setiap musim panas, penduduk kedua kota tersebut senang datang ke Taman Lumbini untuk beristirahat dan berekreasi di bawah kerimbunan pohon-pohon Sala. Mereka menikmati keindahan bunga, kicauan burung yang merdu dan pemandangan kesibukan segerombolan lebah yang memukau.
Ketika Ratu Mahamaya dan para pengiringnya tiba di Taman Lumbini, saat itu adalah hari bulan purnama di bulan Waisak. Karena telah mendekati tengah hari yang terik, Ratu memerintahkan rombongan untuk beristirahat sejenak. Di Taman Lumbini yang indah yang dipenuhi dengan kicauan burung serta harumya bunga inilah ratu Melahirkan putranya. Kelahiran tersebut adalah kelahiran seorang Bodhisattva, sehingga disambut dengan gembira ria oleh para dewa dan dewi di sorga. Mereka menaburkan bunga yang harum semerbak ke bumi. Sementara itu nyanyian sorga berkumandang di seluruh alam semesta. Air suci dari sorga telah membersihkan tubuh Bodhisattva, sehingga tidak ada sedikitpun kotoran yang menodainya.
Suatu keajaiban terjadi yang menyebabkan orang-orang di Taman Lumbini menjadi heran dan kagum. Putra Dewi Mahamaya yang merupakan seorang Bodhisattva atau calon Buddha ketika baru lahir langsung dapat berjalan dan melangkah tujuh langkah. Sungguh mengherankan, setiap tanah yang diinjaknya tumbuhlah bunga teratai sehingga Ia berjalan di atas ke tujuh bunga teratai itu. Setelah tujuh langkah kemudian Ia berhenti kemudian berkata,
"Aku-lah ter-Tua di dunia ini!",
"Akulah ter-Agung di dunia ini!",
 "Inilah kelahiran-Ku yang terkahir!"
Kelahiran putra Dewi Mahamaya yang juga seorang alon Buddha atau Bodhisattva ke dunia disambut oleh seluruh alam semesta dengan suka cita. Bunga-bunga yang tadinya masih kuncup, tiba-tiba mekar, pohon-pohon yang kering tiba-tiba berbunga. Burung-burung yang semula tidak mendengarkan nyanyiannya, sekarang bernyanyi dengan riangnya. Inilah tanda-tanda telah lahir seorang Bodhiasattva di dunia.

2. Pencapaian Penerangan Sempurna

Didalam pengembaraannya, pertapa Gautama mempelajari latihan pertapaan dari pertapaBhagava dan kemudian memperdalam cara bertapa dari dua pertapa lainnya, yaitu pertapaAlara Kalama dan pertapa Udraka Ramputra. Namun setelah mempelajari cara bertapa dari kedua gurunya tersebut, tetap belum ditemukan jawaban yang diinginkannya. Sehingga sadarlah pertapa Gautama bahwa dengan cara bertapa seperti itu tidak akan mencapaiPencerahan Sempurna. Kemudian pertapa Gautama meninggalkan kedua gurunya dan pergi ke Magadha untuk melaksanakan bertapa menyiksa diri di hutan Uruwela, di tepi Sungai Nairanjana yang mengalir dekat Hutan Gaya. Walaupun telah melakukan bertapa menyiksa diri selama enam tahun di Hutan Uruwela, tetap pertapa Gautama belum juga dapat memahami hakikat dan tujuan dari hasil pertapaan yang dilakukan tersebut.
Pada suatu hari pertapa Gautama dalam pertapaannya mendengar seorang tua sedang menasihati anaknya di atas perahu yang melintasi sungai Nairanjana dengan mengatakan:
Bila senar kecapi ini dikencangkan, suaranya akan semakin tinggi. Kalau terlalu dikencangkan, putuslah senar kecapi ini, dan lenyaplah suara kecapi itu. Bila senar kecapi ini dikendorkan, suaranya akan semakin merendah. Kalau terlalu dikendorkan, maka lenyaplah suara kecapi itu.
Nasehat tersebut sangat berarti bagi pertapa Gautama yang akhirnya memutuskan untuk menghentikan tapanya lalu pergi ke sungai untuk mandi. Badannya yang telah tinggal tulang hampir tidak sanggup untuk menopang tubuh pertapa Gautama. Seorang wanita bernama Sujata memberi pertapa Gautama semangkuk susu. Badannya dirasakannya sangat lemah dan maut hampir saja merenggut jiwanya, namun dengan kemauan yang keras membaja, pertapa Gautama melanjutkan samadhinya di bawah pohon bodhi (Asetta) di Hutan Gaya, sambil ber-prasetya, "Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh berserakan, tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna."
Perasaan bimbang dan ragu melanda diri pertapa Gautama, hampir saja Beliau putus asa menghadapi godaan Mara, setan penggoda yang dahsyat. Dengan kemauan yang keras membaja dan dengan iman yang teguh kukuh, akhirnya godaan Mara dapat dilawan dan ditaklukkannya. Hal ini terjadi ketika bintang pagi memperlihatkan dirinya di ufuk timur.
Pertapa Gautama telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha (Sammasam-Buddha), tepat pada saat bulan Purnama Raya di bulan Waisak ketika ia berusia 35 tahun. Pada saat mencapai Pencerahan Sempurna, dari tubuh Sang Siddharta memancar enam sinar Buddha (Buddharasmi) dengan warna biru yang berarti bhakti; kuning mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan; merah yang berarti kasih sayang dan belas kasih; putihmengandung arti suci; jingga berarti giat; dan campuran kelima sinar tersebut.

3. Pencapaian Parinibbana


Setelah selama 45 tahun Buddha membabarkan dhamma dengan penuh cinta kasih kepada semua mahluk, pada usia ke 80 tahun Buddha memberitahu para siswanya bahwa Ia akan wafat atau Parinnibbana 3 bulan lagi. Tiga bulan kemudian Buddha menerima dana makanan terakhir dari Cunda yang berupa sup jamur yang tidak dapat dicerna oleh tubuh manusia biasa karena sup jamur tersebut merupakan makanan para dewa. kemudian Buddha melanjutkan perjalanan ke Kusinara. Setiba di dua pohon sala kembar, Buddha meminta Bhikkhu ananda mengabarkan kepada orang-orang bahwa Buddha akan parinibbana malam itu. Para dewa dan manusia berkumpul untuk menghormat kepada Buddha. Semua yang hadir merasa sangat sedih dan menangis karena Buddha akan pergi selamanya. Melihat hal itu Buddha menasehati para siswanya agar tidak terlalu bersedih karena kepergiaannya.
Karena kematian akan datang kepada siapa saja.
Pesan terakhir Buddha adalah :
“Para Bhikkhu, sekarang saya nyatakan kepada kalian. Segala hal yang terkondisi pasti akan hancur. Oleh karena itu, berjuanglah dengan tekun dan penuh kesadaran”
Tepat pada usia 80 tahun dimalam hari dibulan waisak 543 Sm Buddha mencapai Parinibbana. 
Walaupun Sang Buddha telah parinibbana, namun Sang Buddha meninggalkan warisan yang tak ternilai bagi kita, yaitu ajarannya, Dharma.
Sama halnya dengan keseluruhan cerita ini, ada beberapa hal yang patut kita teladani, seperti sifat Buddha yang penuh cinta kasih dan welas asih, semangat pantang menyerah untuk mencari obat bagi penderitaan, kerendahan hati untuk menerima saran dari siapa saja, dan semangat pelayanannya dalam menyebarkan Dharma selama 45 tahun. Semoga kita semua dapat meneladani sifat-sifat Buddha.
Sadhu Sadhu Sadhu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar